Buah dari Tauhid dalam Kehidupan
Buah dari Tauhid dalam Kehidupan

Kehidupan akan mencapai kemakmuran, keadilan dan kebahagiaan ketika tauhid menjadi pegangan. Tanpa pegangan yang kuat, cepat atau lambat ia akan hancur. Bagaikan sebuah bangunan yang pondasinya rapuh, ia akan mudah runtuh. Oleh karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul agar kebaikan umat manusia terjaga, yaitu dengan seruan kepada tauhid. Allah ta’ala berfirman,

 

ﵟوَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ ﵞ

“Sungguh telah Kami utus para rasul di setiap umat untuk menyerukan, ‘Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah Taghut!’ Ada sebagian dari mereka yang diberikan hidayah oleh Allah, ada pula dari mereka yang ditetapkan kesesatan oleh-Nya.” (QS An-Nahl: 36).

 

Dakwah Para Nabi Adalah Tauhid

Lihatlah Nabi Nuh ‘alaihis salam, beliau mendakwahkan tauhid kepada umatnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Lihat pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, ketika menghancurkan berhala-berhala kaumnya, beliau pun berani untuk berdebat dengan mereka. Beliau berusaha menyadarkan mereka, bahwa berhala-berhala ini tidak bisa berbicara tidak pula bisa mendengar, tidak layak untuk disembah. Beliau mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah. Demikian pula dengan Nabi kita, Muhammad menghabiskan waktu selama tiga belas tahun di Mekkah untuk mengajak kaum musyrikin agar mereka mentauhidkan Allah.

 

Tauhid Mendatangkan Keamanan

Ketika tauhid diperankan dalam kehidupan sehari-hari, maka keamanan negeri akan terjamin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

ﵟٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَﵞ

“Orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan petunjuk.” (QS Al-An’am: 82).

 

Ayat di atas menunjukkan, bahwa keimanan akan mewariskan keamanan, dan keamanan tidaklah bisa diraih melainkan dengan keimanan.

 

Tauhid Mendatangkan Ketenangan

Selain keamanan, penerapan tauhid dalam kehidupan akan mendatangkan ketenangan bagi mereka yang mempraktikkannya. Tatkala musibah menimpa, semisal di-PHK, melamar kerja selalu tidak diterima, dagangan sepi, atau hal-hal lain yang tidak mengenakan dirasa, maka di antara peran tauhid dalam kehidupan, ialah menenangkan hati orang-orang yang sedang diberi ujian oleh Allah. Mereka akan tenang, karena Allah pasti akan menyelamatkannya. Dia akan tenang, karena rezeki sudah diatur oleh Allah ‘azza wa jalla. Perhatikan firman Allah berikut,

 

ﵟيَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡۚ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَﵞ

“Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka, mengapa kalian berpaling (dari ketauhidan)?” (QS Fathir: 3).

 

Tauhid Mencegah Perbuatan Buruk

Akidah yang kuat, akan melindungi negara dari kasus pencurian. Diceritakan, bahwa ada sebuah perusahaan di Jepang yang selalu mengadakan kajian rutin sejak tahun 1996 M, padahal pemilik perusahaan tersebut adalah orang non muslim. Ketika ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa Anda seorang non muslim mengadakan kajian di perusahaan, dan mewajibkan para karyawan untuk rutin menghadiri kajian?” Dia menjawab, “Dengan adanya kajian-kajian Islam ini, kasus pencurian di perusahaan kami menurun drastis.”

 

Orang yang beriman ketika mempelajari agamanya dengan baik, akan tumbuh pada jiwanya sifat muraqabah (selalu merasa diawasi oleh Allah), sehingga dia tidak akan melakukan perbuatan yang buruk. Tauhid yang kuat, juga akan melindungi negara dari tindak menyimpang.

 

Tauhid Menghasilkan Jiwa Yang Kuat

Lihatlah bagaimana Bilal bin Rabbah radhiyallahu’anhu ketika menahan siksaan pedih dari majikannya. Beliau rela dijemur di tengah terik panasnya matahari beriring cambukan pedih yang menghujam tubuhnya. Beliau enggan mengiyakan ajakan kufur dari tuannya. Beliau lebih memilih untuk mengatakan, “Ahaadun ahaad, ahadun ahad (Allah Maha Esa, Allah Maha Esa)!”

 

Lihat pula bagaimana pengorbanan Khabbab bin Al-Arath radhiyallahu’anhu, beliau berusaha menahan panasnya bara api di punggungnya. Lihat pula wanita tukang sisir putrinya Fir’aun, di mana dia lebih memilih dirinya dan anak-anaknya untuk masuk ke dalam panci besar yang di bawahnya sudah terdapat kobaran api daripada harus mengakui Fir’aun sebagai tuhannya.

 

Mengapa mereka sampai sebegitunya? Jawabannya ialah, karena kuatnya tauhid pada jiwanya.

 

Tulisan ini disadur dari kajian berjudul “Peran Akidah dalam Kehidupan” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. (dosen di Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i / STDIIS, Jember).